![]() |
| Foto: Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional di Hambalang, (Ilustrasi: Istimewa) |
Jakarta (khabarsumatranews.com) – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional di Hambalang, Jawa Barat, untuk membahas program-program strategis pemerintah, mulai dari penyelamatan sumber daya alam, pemberantasan korupsi, hingga reformasi kepolisian.
Berita ini dilansir dari tayangan kanal YouTube Kompas Petang, Minggu (1/2/2026), yang dipandu host Kompas Petang dengan narasumber mantan Ketua KPK Abraham Samad, Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari, serta pengamat politik LSI Cayadi Adnan.
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh nasional dan tokoh kritis untuk membahas agenda strategis pemerintahan.
Pertemuan tersebut dihadiri Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah tokoh, di antaranya Prof. Dr. Siti Zuhro, Said Didu, mantan perwira tinggi TNI berpangkat Mayjen, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Sugiono, serta Menteri Sekretaris Negara. Pertemuan dilaksanakan pada Jumat, 30 Januari 2026. Bertempat di Hambalang, Jawa Barat.
Pertemuan digelar untuk menyampaikan capaian dan arah kebijakan pemerintah sekaligus menyerap masukan dari tokoh-tokoh di luar pemerintahan, khususnya terkait isu-isu strategis yang menjadi perhatian publik.
Pertemuan berlangsung selama beberapa jam hingga membuat para peserta lupa waktu makan malam. Dalam agenda tersebut, Presiden Prabowo mempresentasikan program-program kerakyatan yang telah dijalankan pemerintah, termasuk program penyelamatan sumber daya alam, hasil forum-forum ekonomi internasional yang dihadiri Presiden, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, serta reformasi kepolisian.
Pernyataan Abraham Samad
Dalam wawancara tersebut, Abraham Samad menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menegaskan keseriusan pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sumber daya alam dan membongkar praktik korupsi di sektor tersebut.
Abraham juga mengingatkan bahwa saat menjabat Ketua KPK, ia pernah menggagas Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam dengan melibatkan TNI, Polri, dan Kejaksaan Agung. Namun program tersebut tidak berlanjut optimal setelah dirinya keluar dari KPK.
Ia menekankan bahwa pemberantasan korupsi harus dilakukan secara serius dan menyentuh akar persoalan, bukan hanya di permukaan, guna meningkatkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia serta memenuhi komitmen Indonesia terhadap United Nations Convention Against Corruption (UNCAC).
Penjelasan Kepala Staf Kepresidenan
Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari menjelaskan bahwa ada beberapa alasan Presiden menggelar pertemuan tersebut. Pertama, untuk menyampaikan apa saja yang telah dikerjakan pemerintah selama setahun terakhir.
Kedua, untuk mengkomunikasikan keseriusan Presiden dalam membenahi nasib bangsa, khususnya pada aspek penyelamatan sumber daya alam. Ketiga, untuk memperoleh masukan dan saran dari berbagai tokoh serta memperkuat silaturahmi dengan kelompok masyarakat yang beragam.
Menurut Qodari, Presiden Prabowo ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki pemahaman dan perspektif yang sama terkait persoalan bangsa dan cara mengatasinya. Ia juga membuka kemungkinan adanya pertemuan lanjutan dengan tokoh-tokoh lainnya.
Analisis Cayadi Adnan (LSI)
Pengamat politik LSI, Cayadi Adnan, menilai undangan kepada tokoh-tokoh kritis tidak terlepas dari berbagai isu kontroversial yang mencuat sejak akhir 2025 hingga awal 2026, mulai dari bencana alam di Sumatera yang dikaitkan dengan pengelolaan SDA, polemik Pilkada, reformasi Polri, hingga posisi Indonesia dalam isu geopolitik global.
Menurutnya, pertemuan tersebut memiliki beberapa makna politik, antara lain sebagai upaya Presiden menyerap masukan kebijakan, berkomunikasi dengan publik melalui tokoh-tokoh kredibel, serta menunjukkan sikap politik yang terbuka terhadap kritik. Selain itu, pertemuan tersebut juga dinilai sebagai sinyal kepada internal pemerintahan agar serius menangani isu-isu strategis yang menjadi perhatian publik. (red)
