Langkanya “Minyak Kita” Picu Keluhan Pedagang Gorengan, Pecak Lele, dan Kerupuk

Foto: Ilustrasi


Dumai (khabarsumatranews.com) - Pelaku UMKM mengeluhkan kelangkaan minyak goreng kemasan “Minyak Kita” yang sulit ditemukan di pasaran dan berdampak pada usaha pedagang kecil. 

Kelangkaan minyak goreng kemasan “Minyak Kita” mulai dikeluhkan para pelaku UMKM, terutama pedagang gorengan, pecak lele, dan penjual kerupuk yang sangat bergantung pada minyak goreng untuk operasional harian. Kondisi ini dinilai memukul usaha kecil karena biaya produksi mulai meningkat. 

Setelah di lakukan survei oleh media pad hari Jum'at (24/4/26). Sejumlah pedagang gorengan mengaku kesulitan memperoleh “Minyak Kita” di pasaran. Jika tersedia, stoknya terbatas dan cepat habis. 

Mereka terpaksa membeli minyak goreng merek lain dengan harga lebih tinggi, sehingga keuntungan usaha semakin menipis. 

Keluhan serupa juga datang dari pedagang pecak lele yang membutuhkan minyak goreng dalam jumlah besar setiap hari.

Kenaikan biaya akibat langkanya minyak subsidi membuat sebagian pedagang mempertimbangkan menaikkan harga jual menu, meski khawatir akan memengaruhi daya beli pelanggan. 

Pedagang kerupuk turut merasakan dampak yang sama. Mereka menyebut proses produksi menjadi terganggu karena sulit mendapatkan minyak goreng dengan harga terjangkau. 

Jika kondisi ini terus berlanjut, pelaku usaha kecil khawatir produksi menurun dan usaha mereka terancam. 

Para pedagang menduga kelangkaan terjadi akibat distribusi yang belum merata di sejumlah wilayah, sementara permintaan masyarakat terhadap “Minyak Kita” cukup tinggi.  

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan UMKM yang bergantung pada kestabilan harga bahan pokok. 

Pelaku UMKM berharap pemerintah segera turun tangan memastikan distribusi “Minyak Kita” kembali lancar dan mudah diakses masyarakat. 

Mereka meminta pasokan minyak goreng subsidi dijaga agar usaha kecil seperti pedagang gorengan, pecak lele, dan kerupuk tetap bisa bertahan. (red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama