Analisis: Manuver Dagang Prabowo di Tengah Ketegangan Geopolitik Global


Dumai (khabarsumatranews.com) - Kebijakan tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat turun dari 19 persen menjadi 0 persen menjadi sorotan dalam dinamika ekonomi global. Jika kebijakan tersebut benar diterapkan secara resmi maka dampaknya berpotensi signifikan terhadap posisi Indonesia di pasar ekspor Amerika.

Secara komparatif ketika China disebut menghadapi tarif 50 persen dan Vietnam 20 persen Indonesia berpotensi memperoleh keunggulan kompetitif. Dalam teori perdagangan internasional selisih tarif dapat mendorong relokasi investasi dan pergeseran rantai pasok global. Investor cenderung mencari negara dengan biaya masuk pasar yang lebih rendah.

Namun demikian faktor tarif bukan satu satunya penentu arus investasi. Stabilitas regulasi kepastian hukum infrastruktur serta hubungan geopolitik juga menjadi pertimbangan utama investor global.

Di sisi lain posisi Indonesia yang menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan dunia termasuk Amerika Serikat China dan negara negara OKI menempatkan Indonesia dalam posisi diplomasi yang sensitif. Politik luar negeri bebas aktif mengharuskan pemerintah menjaga keseimbangan agar tidak terseret dalam rivalitas kekuatan besar.

Karena itu kebijakan tarif 0 persen jika benar berlaku perlu dilihat bukan hanya sebagai kemenangan dagang jangka pendek tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas ekonomi dan geopolitik nasional.

OPINI REDAKSI

Momentum Emas yang Harus Dijaga

Jika benar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto berhasil melakukan tarik ulur tarif dari 19 persen menjadi 0 persen dengan Amerika Serikat maka ini adalah langkah diplomasi ekonomi yang patut diapresiasi.

Dalam pusaran perang dagang global keberanian mengambil posisi di tengah bukan perkara mudah. Indonesia berada dalam situasi unik dekat dengan banyak negara tetapi tidak berpihak secara ekstrem. Di sinilah seni diplomasi diuji.

Namun pujian tidak boleh membuat indonesia lengah. Tarif 0 persen bisa menjadi peluang besar tetapi juga bisa menjadi ujian. Ketergantungan berlebihan pada satu pasar dapat menjadi risiko apabila situasi politik berubah.

Hubungan baik dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentu membuka ruang negosiasi yang lebih luas. Tetapi Indonesia tetap harus berdiri di atas kepentingan nasional bukan sekadar euforia kemenangan diplomatik.

Kami berpandangan momentum ini harus diikuti dengan penguatan industri dalam negeri peningkatan kualitas produk ekspor serta reformasi regulasi investasi. Tanpa itu peluang hanya akan menjadi headline bukan perubahan struktural. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama