![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Pekan Baru (khabarsumatranews.com) - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) militer China kian melaju pesat. Teknologi drone berbasis AI yang mampu meniru perilaku hewan dalam pertempuran menjadi sinyal bahwa dominasi teknologi militer Amerika Serikat (AS) mulai mendapat tantangan serius.
Amerika Serikat sejak era pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump berulang kali mengeluarkan kebijakan untuk menghambat laju pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) China. Kebijakan tersebut didorong oleh kekhawatiran Washington bahwa AI akan digunakan Beijing untuk memperkuat kekuatan militernya.
Berdasarkan Pemberitaan CNBC Indonesia, upaya pembatasan tersebut paling terlihat melalui regulasi ketat ekspor chip dan peralatan pembuat chip canggih yang dibutuhkan untuk pengembangan AI. Namun, dalam perkembangan terbaru, Presiden Donald Trump mulai melonggarkan kebijakan dengan mengizinkan ekspor chip Nvidia H200 ke China.
Di sisi lain, China justru semakin agresif mengembangkan chip canggih secara mandiri guna mengurangi ketergantungan terhadap teknologi Amerika Serikat. Langkah ini mulai membuahkan hasil nyata di sektor pertahanan.
China tengah mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan produksi drone militer dengan perilaku menyerupai hewan saat bertempur. Penelitian tersebut dilakukan oleh para insinyur Beihang University, kampus yang terafiliasi dengan militer China.
Dalam riset tersebut, drone defensif dirancang meniru strategi elang dengan membidik titik terlemah musuh, sementara drone penyerang meniru perilaku merpati untuk menghindari serangan. Dalam simulasi pertempuran lima lawan lima, drone berperilaku “elang” mampu menghancurkan seluruh drone “merpati” hanya dalam waktu 5,3 detik.
Teknologi ini telah memperoleh paten pada April 2024 dan menjadi bagian dari agenda pertahanan China dalam mengembangkan sistem kawanan drone otomatis. Inovasi ini dinilai akan semakin memperkuat posisi militer China di mata global.
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memandang AI sebagai elemen kunci dalam pengoperasian sistem tanpa awak, mulai dari drone udara hingga robot darat, dengan intervensi manusia yang minimal. Para teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi peperangan baru yang dampaknya sebanding dengan bubuk mesiu dalam sejarah perang dunia.
Penggunaan drone sendiri semakin dominan dalam konflik modern, termasuk perang di Ukraina. China memiliki keunggulan besar di sisi industri dengan kapasitas produksi lebih dari satu juta drone murah per tahun, jauh melampaui Amerika Serikat yang hanya mampu memproduksi puluhan ribu unit dengan biaya lebih tinggi.
Tak hanya drone udara, China juga memamerkan robot darat bersenjata berbentuk “serigala” yang dapat beroperasi terintegrasi dengan kawanan drone. Para analis menilai, pemanfaatan AI juga dapat menutupi keterbatasan pengalaman tempur sebagian komandan PLA yang berada dalam struktur komando sangat terpusat.
Dokumen pengadaan militer China menunjukkan riset lanjutan pada sistem perang kognitif, termasuk penyebaran deepfake, pengoperasian robot anjing, hingga penggunaan suara terarah sebagai alat serangan. Meski masih dalam tahap pengembangan, para ahli memperingatkan risiko besar jika keputusan mematikan sepenuhnya diserahkan kepada sistem AI tanpa kontrol manusia.
China juga mengkaji perilaku berbagai hewan lain, seperti semut, koyote, domba, paus, elang, hingga lalat buah, guna meningkatkan koordinasi kawanan drone. The Wall Street Journal mencatat, sejak 2022 terdapat sedikitnya 930 paten terkait kecerdasan kawanan yang diajukan institusi yang terafiliasi dengan militer China, jauh melampaui Amerika Serikat yang hanya sekitar 60 paten.
Sementara itu, militer AS juga mengembangkan teknologi serupa, namun lebih berfokus pada integrasi drone individual dengan prajurit manusia. Para analis menilai kombinasi AI dan rantai pasok drone skala besar berpotensi memungkinkan PLA membanjiri sistem pertahanan lawan, khususnya dalam skenario konflik di Taiwan. (red)
