![]() |
| Sampul Buku Berjudul Seorang Yang Terlanjur Disimpulkan, karangan Harry Tjahjono. (Foto: tangkapan Layar) |
Opini - Bahlil Lahadalia, Seorang yang Telanjur Disimpulkan Buku itu diterbitkan pada 7 Agustus 2026. Saya Kembangkan isi bukunya dalam Bentuk Opini dan Saya tuliskan tidak semata-mata berbicara tentang Bahlil Lahadalia, tetapi juga mengajak pembaca Opini ini, melihat bagaimana persepsi terhadap seseorang dapat terbentuk, berkembang, lalu dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Yang menarik bagi saya adalah gagasan bahwa kita sering melihat seseorang hanya dari satu sisi, kemudian menjadikan potongan tersebut sebagai gambaran keseluruhan. Kita mendengar satu pernyataan, menyaksikan satu peristiwa, membaca satu berita, atau melihat satu potongan video, lalu merasa telah mengetahui siapa seseorang sebenarnya.
Bahlil berada di tengah situasi tersebut. Namanya muncul dalam berbagai pemberitaan, tayangan televisi, YouTube, podcast, maupun perbincangan publik. Ada kritik terhadap kebijakan dan sepak terjangnya, ada pula pandangan yang berbeda. Dari berbagai potongan informasi itulah kemudian terbentuk beragam persepsi tentang sosok Bahlil Lahadalia.
Sebagai pembaca, saya tidak melihat buku ini sebagai upaya untuk membela Bahlil, tetapi juga tidak sebagai usaha untuk membantah berbagai kritik terhadap dirinya. Buku ini justru menarik karena mencoba mengambil jarak dari kedua posisi tersebut.
Yang saya tangkap adalah adanya upaya untuk melihat seseorang secara lebih utuh.
Buku ini seakan mengajak pembaca bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kita benar-benar mengenal seseorang, atau sebenarnya hanya mengenal citra yang terbentuk dari informasi yang kita terima?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kehidupan kita sekarang berada dalam arus informasi yang sangat cepat. Satu pernyataan dapat menyebar dalam hitungan menit. Satu potongan video dapat membentuk opini. Satu judul berita dapat memengaruhi cara seseorang melihat sebuah persoalan. Bahkan, satu nama dapat membawa begitu banyak persepsi sebelum orang tersebut benar-benar dipahami.
Di sinilah saya melihat kegelisahan utama buku ini.
Mengapa kita begitu cepat menilai? Mengapa kita lebih mudah memberikan komentar daripada mendengar penjelasan? Mengapa kita merasa sudah mengetahui sesuatu, padahal yang kita lihat baru sebagian kecil? Dan mengapa sebuah kesan dapat dengan cepat berubah menjadi keyakinan?
Buku ini juga membawa pembaca pada persoalan yang lebih luas, tentang prasangka, citra, opini, dan fakta. Sesuatu yang semula hanya persepsi dapat berulang kali disampaikan hingga akhirnya dianggap sebagai fakta. Sebaliknya, proses panjang seseorang sering kali kalah oleh satu potongan peristiwa yang lebih menarik perhatian publik.
Menurut saya, di sinilah buku ini menjadi relevan untuk dibaca, bukan hanya dalam konteks Bahlil Lahadalia, tetapi juga dalam melihat kebiasaan kita sebagai masyarakat.
Saya tidak membaca buku ini sebagai pembelaan. Sebab, pembelaan dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara kritis. Saya juga tidak membacanya sebagai penghakiman. Sebab, penghakiman sering kali membuat kita berhenti mendengar dan menutup ruang untuk memahami.
Bagi saya, buku ini lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk mengambil jeda.
"Tidak lama, hanya sebentar."
Jeda untuk melihat kembali informasi yang kita terima. Jeda untuk mendengar dari lebih dari satu sisi. Jeda untuk memeriksa sumber. Dan yang paling penting, jeda untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kesimpulan yang saya miliki lahir dari fakta dan pemahaman, atau hanya dari informasi yang kebetulan paling sering saya lihat?
Kita hidup dalam ruang publik yang semakin mudah dipenuhi reaksi. Orang dapat merespons sebelum melakukan konfirmasi, berkomentar sebelum menelusuri, bahkan membentuk kebencian berdasarkan informasi yang belum tentu lengkap.
Di sinilah persoalannya tidak lagi hanya tentang Bahlil.
Persoalannya kembali kepada kita sebagai pembaca, sebagai masyarakat, dan sebagai manusia yang setiap hari menerima begitu banyak informasi.
Pendidikan seharusnya mengajarkan kita bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk memilah. Dari pendidikan pula kita semestinya belajar membedakan fakta dan opini, informasi dan persepsi, kritik dan prasangka.
Karena itu, kemampuan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya merupakan bagian penting dari cara kita berpikir.
Setelah membaca buku ini, saya menangkap satu pesan yang sederhana tetapi penting:
"jangan terburu-buru menyimpulkan seseorang hanya dari apa yang kita lihat sepintas."
Bahlil Lahadalia dalam buku ini akhirnya menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih besar, yaitu tentang bagaimana kita membentuk penilaian terhadap manusia.
Sebab, boleh jadi yang perlu kita evaluasi bukan hanya orang yang sedang kita nilai, tetapi juga cara kita menilai.
Sebelum percaya, periksa. Sebelum berkomentar, pahami. Sebelum menghakimi, dengarkan.
Dan sebelum menyimpulkan seseorang, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu:
sudahkah kita benar-benar mengetahui keseluruhannya? (*)
Penulis : Hasan Basri

Posting Komentar