Jakarta, (khabarsumatranews.com) – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan serta tata kelola kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di tingkat global. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui keikutsertaan Indonesia dalam penandatanganan dokumen pendirian World AI Cooperation Organization (WAICO) bersama sekitar 30 negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kerja sama internasional tersebut menjadi langkah penting agar pengembangan AI di Indonesia berjalan seiring dengan perkembangan global serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Pada Sabtu (18/7/26) Airlangga menyampaikan.
"Nah ini tentunya memastikan bahwa pengembangan AI terjalan dengan pengembangan global, dan ini Indonesia akan menggaunakan agar apa yang di-sharing bisa terus didorong secara bersama, dan ini menjadi bagian daripada SDGs target daripada PBB," ungkap Airlangga saat konferensi pers, Jumat 17 Juni 2026 malam.
Airlangga menjelaskan, sektor ekonomi digital Indonesia diproyeksikan terus mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Nilai ekonomi digital nasional diperkirakan meningkat hingga mencapai US$366 miliar pada 2030, bahkan berpotensi menembus US$600 miliar melalui penguatan kerja sama regional maupun global.
"Bagi Indonesia, ekonomi digital ini potensinya sampai dengan tahun ini US$ 130 billion, dan tahun 2030 akan menjadi US$ 366 billion," ujar Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga menilai kerja sama digital di kawasan ASEAN melalui Digital Economic Framework Agreement (DEFA) akan menjadi salah satu pendorong utama peningkatan nilai ekonomi digital di kawasan.
"Dalam rangka kerja sama regional di ASEAN, Digital Economic Framework Agreement, di mana ini diharapkan dapat ditandatangani oleh Keketuaan Filipina tahun ini, dan diharapkan ekonomi digital ini akan meningkat dari US$ 1 triliun di ASEAN menjadi US$ 2 triliun, dan Indonesia juga potensi dari US$ 400 (miliar) menjadi US$ 600 miliar," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Angga Raka Prabowo, menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar teknologi AI, tetapi juga berkontribusi dalam penyusunan tata kelola AI di tingkat internasional.
"Yang jelas kita ambil manfaatnya bahwa Indonesia bukan hanya sebagai penonton, kita berperan aktif di sini, kita ambil sisi positifnya, bagaimana kita bisa berperan di dalam tata kelola penyusunan AI secara global," imbuhnya.
Keikutsertaan Indonesia dalam penandatanganan deklarasi pendirian WAICO menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat kolaborasi internasional di bidang pengembangan dan tata kelola kecerdasan artifisial. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Menko Airlangga bersama perwakilan dari sekitar 30 negara.
Adapun negara-negara yang telah menandatangani dokumen pendirian WAICO meliputi Aljazair, Belarus, Brasil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Etiopia, Indonesia, Kazakstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia, dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT/China). (red)


0 Komentar