Ketika Pengusaha Bersinggungan dengan Kekuasaan: Pelajaran Dunia dan Cermin bagi Indonesia


Dalam ekonomi modern, yang diperdagangkan bukan hanya saham, obligasi, atau mata uang. Ada satu aset yang nilainya jauh lebih mahal, "kepercayaan".

Sejarah menunjukkan, ketika seorang tokoh bisnis besar bersinggungan dengan kekuasaan politik atau menghadapi krisis reputasi, pasar dapat bereaksi dalam hitungan jam. Harga saham jatuh, nilai perusahaan menyusut, dan kepercayaan investor menguap.

Fenomena itu pernah terjadi di China, Rusia, hingga Jepang. Lalu, apakah Indonesia juga bisa mengalami hal serupa?

Jack Ma: Kritik yang Berujung Hilangnya Ratusan Triliun

Pada Oktober 2020, pendiri Alibaba, Jack Ma, menyampaikan pidato di Bund Summit, Shanghai. Dalam pidato tersebut, ia mengkritik sistem regulasi keuangan China yang dinilainya sudah ketinggalan zaman.

Tak lama kemudian, pemerintah China membatalkan IPO Ant Group yang diproyeksikan menjadi penawaran saham terbesar di dunia.

Dampaknya luar biasa.

CNBC Indonesia mencatat Jack Ma kehilangan potensi keuntungan hingga sekitar Rp395 triliun setelah IPO Ant Group ditunda. 

Bagi sebagian pihak, langkah Beijing merupakan penegakan regulasi. Namun bagi yang lain, kasus ini dibaca sebagai pesan bahwa bahkan pengusaha paling berpengaruh pun tidak berada di atas otoritas negara.

Mikhail Khodorkovsky: Oligarki yang Runtuh

Di Rusia, kisah serupa terjadi pada awal 2000-an.

Mikhail Khodorkovsky, pemilik perusahaan minyak Yukos, pernah menjadi orang terkaya di Rusia. Namun hubungannya dengan Kremlin memburuk setelah ia mulai terlibat dalam aktivitas politik dan mengkritik praktik korupsi.

Pada 2003, Khodorkovsky ditangkap atas tuduhan penipuan dan penggelapan pajak. Setelah itu, Yukos menghadapi berbagai tuntutan pajak bernilai miliaran dolar hingga akhirnya bangkrut.

Sejumlah putusan arbitrase internasional kemudian menyebut pembubaran Yukos memiliki motif politik. Namun pemerintah Rusia tetap menyatakan tindakan tersebut murni penegakan hukum. 

Kasus Yukos menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang bagaimana hubungan antara bisnis dan kekuasaan dapat mengubah nasib sebuah korporasi.

Carlos Ghosn: Ketika Reputasi Mengguncang Bursa

Berbeda dengan China dan Rusia, Jepang menunjukkan sisi lain dari psikologi pasar.

Pada November 2018, Ketua Nissan, Carlos Ghosn, ditangkap oleh jaksa Jepang atas dugaan pelanggaran laporan keuangan.

Reaksi pasar berlangsung seketika.

Saham Nissan turun sekitar enam persen di awal perdagangan Tokyo. Investor khawatir terhadap masa depan kepemimpinan perusahaan yang selama ini bergantung pada figur Ghosn. 

Kasus ini memperlihatkan bahwa bukan hanya konflik politik yang dapat menjatuhkan nilai perusahaan, tetapi juga krisis tata kelola dan reputasi.

Indonesia dan Pertanyaan tentang Kepercayaan

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul narasi dari sejumlah media keuangan internasional mengenai sentimen "Sell Indonesia". Pelemahan rupiah, tekanan terhadap pasar saham, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi menjadi sorotan investor global.

Tidak ada bukti resmi yang menunjukkan adanya operasi terkoordinasi untuk menjatuhkan Indonesia.

Namun sejarah pasar keuangan mengajarkan satu hal, persepsi dapat menciptakan kenyataan ekonomi.

Ketika investor percaya risiko meningkat, mereka mulai menjual aset.

Jika aksi jual terjadi secara luas:

  • rupiah melemah,
  • indeks saham turun,
  • pemberitaan negatif bertambah,
  • kepanikan meluas.
Dalam ilmu ekonomi perilaku, fenomena ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu ketika ekspektasi negatif justru membantu mewujudkan hasil negatif tersebut.

Serangan Psikologis atau Mekanisme Pasar?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah kondisi seperti ini dapat disebut sebagai serangan psikologis?

Jawabannya tidak sederhana.

Untuk menyatakan adanya operasi psikologis terorganisasi, dibutuhkan bukti kuat berupa:

  • Aktor yang jelas,
  • Koordinasi sistematis,
  • Tujuan tertentu,
  • serta jejak transaksi atau dokumen pendukung.
Tanpa bukti tersebut, fenomena yang terjadi lebih tepat disebut sebagai sentimen pasar negatif yang diperkuat oleh pemberitaan, persepsi risiko, dan psikologi investor.

Namun, dampaknya tetap nyata.

Dalam dunia keuangan global, headline berita dapat menggerakkan miliaran dolar. 
Rumor dapat memicu aksi jual dan kepercayaan yang hilang sering kali lebih sulit dipulihkan dibandingkan membangun gedung pencakar langit atau kawasan industri.

Pelajaran bagi Indonesia

Kisah Jack Ma menunjukkan bahwa kekuasaan politik dapat mengubah arah bisnis dalam waktu singkat.

Kasus Khodorkovsky memperlihatkan bahwa konflik dengan negara dapat menghancurkan imperium usaha.

Sementara Carlos Ghosn membuktikan bahwa reputasi seorang pemimpin dapat memengaruhi nilai perusahaan hanya dalam sehari.

Bagi Indonesia, pelajarannya sederhana namun mendasar.

Menjaga stabilitas ekonomi bukan hanya soal cadangan devisa, suku bunga, atau angka pertumbuhan. Yang tak kalah penting adalah menjaga kepercayaan melalui kepastian hukum, konsistensi kebijakan, transparansi, dan tata kelola yang baik.

Sebab pada akhirnya, dalam ekonomi modern, pertarungan terbesar bukan hanya terjadi di lantai bursa, melainkan di benak para pelaku pasar. (*)

Sumber Referensi: 

  1. CNBC Indonesia, "Kisah Jack Ma Kritik China Lalu Kehilangan Cuan Rp 395 T", 6 November 2020. 
  2. CNBC Indonesia, "IPO Ant Group Batal, Kekayaan Jack Ma Menguap", 8 November 2020. 
  3. IDX Channel/BBC, "Carlos Ghosn Ditangkap, Saham Nissan Langsung Melorot". 
  4. CNN Indonesia, "Saham Nissan Rontok Usai Penangkapan Carlos Ghosn", 20 November 2018. 
  5. Data sejarah Yukos dan Mikhail Khodorkovsky. Associated Press, "A Dutch court has rejected a final argument in a legal battle over former Russian oil giant Yukos".

Catatan redaksi: Artikel ini merupakan analisis berdasarkan peristiwa yang telah dipublikasikan oleh berbagai media dan sumber terbuka. Tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan adanya konspirasi atau operasi terkoordinasi tanpa bukti hukum yang dapat diverifikasi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama