IHSG Anjlok Hampir 3 Persen, Sektor Transportasi dan Keuangan Jadi Penekan Utama

Foto Tabel Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)



Dumai, (khabarsumatranews.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi. Hingga pukul 09.03 WIB, IHSG tercatat berada di level 5.491,18 atau turun 166,82 poin setara 2,98 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan jual yang melanda mayoritas sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama sektor transportasi, perindustrian, infrastruktur, dan keuangan.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka pada level 5.486,31 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.490,11 sebelum terkoreksi hingga level terendah 5.370,32.

Sektor Transportasi dan Logistik menjadi pemberat terbesar dengan penurunan sekitar 5,97 persen. Secara mingguan, sektor tersebut juga tercatat melemah hingga 14,08 persen.

Selain itu, sektor Perindustrian ikut menekan pergerakan indeks dengan koreksi mingguan mencapai 13,33 persen. Sementara sektor Infrastruktur mengalami pelemahan sekitar 11,62 persen dalam sepekan terakhir.

Di sektor Keuangan, aksi jual investor asing pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar turut memberikan tekanan terhadap IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan indeks.

Pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, aksi jual di sejumlah bursa dunia, terutama pada sektor teknologi di Amerika Serikat, memicu sikap hati-hati investor.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.370 per dolar AS turut menambah tekanan pasar. Selain itu, kekhawatiran investor terhadap rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang dinilai berpotensi memengaruhi independensi lembaga keuangan juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indeks utama yang digunakan Bursa Efek Indonesia untuk mengukur kinerja seluruh saham yang tercatat di BEI. Indeks ini pertama kali diperkenalkan pada 1 April 1983 dengan hari dasar perhitungan pada 10 Agustus 1982 dan nilai dasar 100.

Saat pertama kali digunakan, IHSG hanya mencakup 13 saham. Kini, indeks tersebut menjadi barometer utama kondisi pasar modal Indonesia dan mencerminkan pergerakan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. (**)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama